Wednesday, April 19, 2017

PENYEBAB KERACUNAN MAKANAN DAN PENCEGAHANNYA

Keracunan makanan? Sering mendengar atau membaca beritanya bukan? Ironis. Karena sebagian besar kejadian tersebut terjadi di tengah-tengah pesta atau hajatan. Peristiwa yang seharusnya menyenangkan tapi berubah menjadi petaka karena makanan. Keracunan makanan juga sering terjadi di lingkungan sekolah maupun pabrik. Tak tanggung-tanggung, korbannya bisa mencapai puluhan. Lebih menyedihkan lagi jika sampai ada yang meninggal.

Gambar keracunan makan
Keracunan makanan (image source: www.regional.liputan6.com)

Apa Itu Keracunan Makanan ?


Keracunan makanan adalah sebuah kondisi tidak nyaman/sakit yang terjadi setelah seseorang mengkonsumsi makanan tertentu. Peristiwa ini sering terjadi di negara kita dan di negara berkembang lainnya. Menurut Badan POM, di tahun 2016 telah terjadi hampir 200 insiden keracunan secara nasional, di mana hampir 90 % nya adalah keracunan makanan.

Image source: www.ik.pom.go.id

Mengapa keracunan terjadi?


Secara umum keracunan makanan terjadi karena kurangnya kesadaran akan higienitas dan sanitasi, serta proses pengolahan makanan juga penting untuk diperhatikan. Untuk unit usaha, pengemasan menjadi hal yang tak kalah penting juga.

Penyebab terjadinya keracunan makanan adalah bakteri, virus, protozoa, dan parasit. Nah keduanya berhubungan dengan kebersihan khan? Oleh karena itulah kebersihan dalam hal makanan itu penting.

Mikroorganisme dapat menyebabkan keracunan makanan


Ketika terjadi kasus keracunan makanan, maka biasanya pihak departemen kesehatan akan mengambil sampel makanan yang sebelumnya dikonsumsi oleh korban. Sampel dibawa ke laboratorium untuk diuji dan dicari tahu penyebab keracunannya. 

Penyebab keracunan makanan ada dua, yaitu:
  1. Intoksikasi; keracunan disebabkan oleh toksin atau racun yang ada di dalam makanan. Toksin ini bisa berasal dari mikroorganisme maupun bahan kimia buatan manusia. Di sini akan dibahas intoksikasi yang disebabkan oleh toksin dari mikroorganisme.
  2. Infeksi; keracunan disebabkan oleh mikroorganisme yang ada di dalam makanan. Mikroorganisme di sini masih dalam keadaan hidup. Mikroorganisme yang dimaksud di sini adalah bakteri, virus, protozoa, dan parasit.

Intoksikasi

Staphylococcus

Dari sekitar 20-an anggota genus ini, Staphylococcus aureus adalah species yang paling banyak menyebabkan keracunan makanan. Bakteri ini terdapat di keju olahan, susu, butter, es krim, daging yang sudah dimasak, salad, dan makanan-makanan yang bersentuhan langsung dengan tangan kita. Mengapa? Tangan kita ini sumbernya loh...
Bakteri ini suka pada bahan makanan yang suhunya sama dengan suhu tubuh kita, yaitu sekitar 37℃, dan pH-nya sekitar 6.5-7.5. Bakteri ini bisa tumbuh dalam lingkungan aerobik (ada oksigen) maupun anaerobik (tanpa oksigen).
Gejala keracunan toksin staphilokoki adalah mual, muntah, kram perut, diare, sakit kepala, kejang otot, dan ada juga yang mengalami kenaikan suhu badan. Gejala muncul antara 1 - 6 jam setelah konsumsi makanan.
Keracunan ini bisa diatasi dengan pemberian cairan elektrolit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat diare.

Clostridium botulinum


Bakteri ini menyebabkan keracunan yang disebut dengan botulisme. Mereka banyak terdapat di tanah dan air. Mereka mengkontaminasi makanan melalui penanganan atau pengolahan yang tidak baik.
Clostridium adalah bakteri yang obligat anaerob atau tidak memerlukan oksigen sama sekali untuk pertumbuhannya.
Gejala keracunan botulisme ini terjadi antara 12 - 36 jam, namun bisa lebih cepat jika toksin yang terkonsumsi lebih banyak. Gejalanya adalah mual, muntah, diare, lemas, pusing, pandangan menjadi doubel, kesulitan menelan dan berbicara. Lebih lanjutnya adalah kelumpuhan pada otot, bahkan sampai pada sistem pernafasan dan jantung.
Penanganan yang paling tepat adalah dengan membawa korban ke rumah sakit terdekat, untuk mencegah kelumpuhan yang terjadi.


Bacillus cereus


Bacillus secara alami terdapat di tanah, susu, herba, bumbu-bumbuan, berbagai makanan kering, dan daging. Bahkan nasi dan sayuran bisa mengandung bakteri ini. 
Gejala keracunan Bacillus adalah mual, muntah, keram perut, dan diare, serta bisa nampak setelah 1 - 16 jam. 


Mikotoksin


Toksin ini dihasilkan oleh kelompok jamur, seperti Fusarium, Claviceps, Aspergillus, dan lain sebagainya. Toksin yang dihasilkan menyebabkan diare, kontraksi otot, sampai pada kanker. Kelompok jamur banyak ditemui pada produk pati, jagung, dan kacang-kacangan.


Infeksi


Salmonella typhi


Salmonella typhi merupakan penyebab penyakit tipus. Bakteri ini secara alamiah terdapat di dalam sistem pencernaan kita. Infeksi terjadi ketika seseorang mengkonsumsi makanan yang mengandung bakteri ini. Kontaminasi bisa terjadi ketika bahan makanan tercemar oleh feces. Misalnya dicuci dengan air yang mengandung bakteri ini, atau diolah oleh seseorang yang telah sembuh dari tipus. 
Bahan makanan yang memiliki potensi mengandung Salmonella adalah daging sapi, daging ayam, dan daging babi. Selain itu bahan yang tidak dimasak sempurna, bahan mentah yang terkontaminasi, dan adanya kontaminasi silang juga bisa menjadi sumbernya. 

Shigella dysenteriae


Shigella dysenteriae menyebabkan penyakit disentri, dengan gejala diare, feces yang berdarah, dehidrasi, demam, dan muntah. Gejala biasanya muncul antara 1 - 7 hari. Penularan  penyakit ini bisa melalui kontak langsung maupun  melalui makanan dan air yang tercemar. Rendahnya higienitas menyebabkan penyakit ini mudah menular. Penanganan penyakit ini menggunakan antibiotik.


Escherichia coli


Bakteri ini menyebabkan diare, dengan masa inkubasi atau munculnya gejala antara 8 - 44 jam. Gejalanya adalah demam, keram perut, dan diare. Pada diare yang parah juga terjadi perdarahan. Daging sapi, daging babi, dan daging ayam yang terkontaminasi bisa menjadi sumber keberadaan bakteri ini. 


Campylobacter jejuni


Campylobacter merupakan penyebab diare dengan gejala keram perut, demam, mual, muntah, terkadang juga terjadi perdarahan. Bahan-bahan makanan yang berasal dari hewan merupakan sumber dari bakteri ini.


Yersinia enterocolitica


Penyakitnya disebut dengan yersiniosis, dengan gejala diare, demam, sakit kepala, keram perut, dan muntah. 


Vibrio cholerae


Vibrio ini merupakan penyebab penyakit kolera. Gejalanya adalah keram perut dan diare yang berair. Makanan dan air yang tercemar merupakan sumber bakteri ini. 


Pencegahan


Keracunan makanan bisa dicegah bila kita higienis. Selain itu lingkungan kita juga bersih. Berikut beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan  untuk mencegah terjadinya keracunan makanan.
  • mencuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan
  • mencuci tangan sebelum makan
  • mencuci tangan setelah menggunakan toilet
  • mengolah makanan menggunakan peralatan yang bersih
  • mencuci atau membersihkan bahan mentah sebelum dimasak
  • meletakkan makanan pada suhu ruang kurang dari 2 jam
  • mengolah makanan dengan benar
  • tidak meletakkan makanan yang sudah masak di dekat bahan mentah untuk mencegah kontaminasi silang
  • menyimpan bahan makanan beku di dalam freezer
  • tidak mengkonsumsi makanan yang sudah kadaluarsa
  • tidak mengkonsumsi makanan kemasan yang kemasannya sudah menggelembung
  • menjaga kebersihan dapur dan yempat mengolah makanan
  • menyimpan makanan pada suhu di bawah 5℃ atau di atas 60℃


EmoticonEmoticon