Tuesday, May 30, 2017

Bakteri Patogen yang Resisten Terhadap Antibiotik

Antibiotik merupakan salah jenis obat yang paling sering diresepkan oleh dokter. Saya yakin Anda pun pasti pernah mengkonsumsinya. Sebenarnya obat ini hanya digunakan jika terindikasi terjadi infeksi oleh bakteri patogen. Jika tidak ada indikasi tersebut, maka seharusnya tidak perlu diresepkan. Selain itu pemberian antibiotik juga dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi, misalnya pasca operasi.
Seperti obat yang lain juga, antibiotik memiliki dosis minum. Ketika dokter meresepkannya, sudah ada perhitungannya. Oleh karena itu kita disarankan untuk tidak mengkonsumsinya dengan sembarangan, tapi harus dengan resep dokter. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika kita mengkonsumsi antibiotik tanpa petunjuk dokter, yaitu dosisnya kurang atau kelebihan. Dosis yang kurang bisa menyebabkan infeksi semakin parah, sedangkan dosis yang kelebihan akan menyebabkan terjadinya resistensi patogen terhadap antibiotik.
Pada bulan Februari yang lalu, WHO (World Health Organization) merilis daftar bakteri yang resisten terhadap antibiotik tertentu. Daftar ini merupakan hasil kolaborasi mereka dengan Division of Infectious Diseases University of Tübingen Jerman. Mereka membaginya mejadi 3, yaitu kritikal (prioritas utama), prioritas tinggi, dan prioritas sedang.

Resistensi Patogen terhadap Antibiotik
Resistensi Patogen terhadap Antibiotik

Kriteria

  • seberapa mematikan infeksi yang disebabkannya
  • seberapa lama waktu yang diperlukan untuk proses pengobatannya
  • seberapa sering mereka resisten terhadap antibiotik yang ada
  • seberapa mudah penularannya
  • apakah bisa dicegah , misalnya melalui higienitas atau vaksinasi
  • masih ada berapa banyak lagi pilihan pengobatan yang bisa dilakukan
  • apakah obat baru untuknya sudah diteliti

Kelompok kritikal

  1. Acinetobacter baumannii - resisten terhadap karbapenem. Bakteri ini merupakan penyebab infeksi utama pada pasien di rumah sakit, dan banyak ditemukan di area tersebut yaitu di tanah maupun airnya. 
  2. Pseudomonas aeruginosa - resisten terhadap karbapenem. Mikrobia ini dapat ditemukan di air dan tanah, dan merupakan penyebab utama infeksi nosokomial. Yaitu infeksi yang terjadi selama atau setelah seseorang opname di rumah sakit. Infeksi yang disebabkannya bisa terjadi pada berbagai organ tubuh, yaitu: mata, telinga, hidung, tulang, kandung kemih, paru-paru, bahkan darah. 
  3. Enterobacteriaceae - resisten terhadap karbapenem. Enterobacteriaceae merupakan kelompok bakteri yang secara alami ada di usus manusia maupun hewan mamalia. Bakteri ini juga mudah ditemukan di tanah maupun air. Contohnya adalah Escherichia coli (lihat link 7 Escherichia coli penyebab diare untuk lebih detailnya), Salmonella, dan Enterobacter. Infeksi yang disebabkannya adalah diare, disentri, tiphus, dan infeksi saluran pencernaan lainnya. Di artikel MACAM-MACAM DIARE, PENYEBAB, DAN CARA MENGATASINYA Anda akan mendapatkan penjelasan lebih lengkap. Selain menyebabkan infeksi, beberapa anggotanya juga merupakan penyebab keracunan makanan, detailnya ada di artikel PENYEBAB KERACUNAN MAKANAN DAN PENCEGAHANNYA.

Kelompok prioritas tinggi

  1. Enterococcus faecium - resisten terhadap vancomycin. Mikroorganisme ini juga merupakan flora normal dari saluran pencernaan manusia dan hewan mamalia. Selain itu mereka juga terdapat di tanah. Mereka menyebabkan infeksi nosokomial, infeksi pada luka, sampai infeksi saluran urin. 
  2. Staphylococcus aureus - resisten terhadap methicilin dan vancomycin. Secara alami bakteri ini terdapat di kulit kita. Namun mereka jugalah yang bisa menyebabkan infeksi pada kulit kita, yaitu saat terjadi abses. Infeksi lebih lanjut bisa terjadi pada pembuluh darah jantung, tulang, dan paru-paru, jika mereka sampai masuk ke aliran darah. Infeksi pada tulang bisa terjadi pada penderita koreng yang sangat dalam atau pada luka penderita diabetes.
  3. Helicobacter pylory - resisten terhadap klaritromisin. Infeksi saluran pencernaan adalah infeksi yang paling sering disebabkannya. Bekteri ini bisa ditemukan di kotoran, saliva, dan plak gigi. Mereka sangat mudah berpindah dari satu orang ke orang lain, terutama jika orang yang memilikinya tidak mencuci tangan setelah defekasi.
  4. Campylobacter sp. - resisten terhadap fluorokuinolon. Kelompok mikrobia ini secara alami ada di dalam saluran pencernaan hewan ternak. Ketika lingkungan mereka terkontaminasi, maka di sinilah kesempatan mereka untuk menginfeksi manusia, yaitu melalui daging dan susu yang tidak dipasteurisasi. 
  5. Salmonellae - resisten terhadap fluorokuinolon. Species yang terkenal dari kelompok ini adalah Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Penyakit typhus terjadi karena adanya infeksi dari kelompok ini. Mereka bisa menginfeksi jika sanitasi dan higienitas kita kurang. Misalnya tidak mencuci tangan setelah buang air besar atau kecil. Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi mereka juga bisa menyebabkan infeksi. 
  6. Neisseria gonorrhoeae - resisten terhadap fluorokuinolon dan sefalosporin. Bakteri ini adalah penyebab penyakit kelamin gonorea. Penyebarannya melalui hubungan seksual. Wanita hamil yang terinfeksi bakteri ini bisa melahirkan bayi yang menderita konjungtivitis pada matanya.

Kelompok prioritas sedang

  1. Streptococcus pneumoniae - tidak rentan terhadap penisilin. Kelompok ini menyebabkan penyakit pneumonia, dengan  menginfeksi alveoli dan jaringan di sekitarnya yang bisa menyebabkan kematian. Pencegahannya bisa dilakukan dengan vaksinasi.
  2. Haemophilus influenzae - resisten terhadap ampisilin. Mikroorganisme ini menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan, dengan penyebaran melalui bersin, batuk dan sentuhan. Pencegahannya dilakukan dengan pemberian vaksin.
  3. Shigella sp. - resisten terhadap fluorokuinolon. Bakteri ini merupakan penyebab disentri, yaitu diare yang disertai darah dan lendir. Penyebarannya sangat mudah terjadi jika sanitasi dan higienitas rendah, yaitu melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, dan berenang di kolam renang yang tidak diberi atau kurang klorin.
Para peneliti antibiotik sedang berpacu dengan waktu sekarang ini. Menurut Prof. Evelina Tacconelli, pimpinan dari Division of Infectious Diseases University of Tübingen Jerman, menunggu lebih lama akan menyebabkan lebih banyak masalah di masyarakat dan pasien. Meskipun penelitian yang dilakukan sangat penting, namun pencegahan terhadap infeksi dan penggunaan yang antibiotik yang tepat juga tidak kalah penting.

Yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap antibiotik tersebut adalah:
  • mengkonsumsi antibiotik hanya jika diresepkan oleh dokter
  • mengikuti petunjuk dokter dalam mengkonsumsinya
  • mencegah infeksi diantaranya dengan cara rajin mencuci tangan dan menyiapkan makanan secara higienis.


EmoticonEmoticon